Ngobrol Hasil Pantauan Perburuan Hiu

12 February 2014 Leave a reply

Foto: Riyanni Djangkaru

Mari berbincang-bincang tentang hiu, manta, lumba-lumba, dan paus bareng #SaveSharks Indonesia, Gili Eco Trust, Jakarta Animal Aid Network, Earth Island Insitute, dan para pemerhati hiu.

Sepanjang 2013, keberadaan dan aktivitas TPI Tanjung Luar di Lombok terus dipantau. Baru beberapa tahun belakangan, kita mendengar Tanjung Luar adalah salah satu daerah yang melakukan pembantaian hiu dalam jumlah besar. Tidak hanya hiu, satwa lain pun turut diburu, seperti manta, lumba-lumba, dan paus.

Tanjung Luar sendiri memang kita kenal sebagai desa nelayan di Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat. Mereka memiliki pelabuhan dan tempat pelelangan ikan yang juga besar.

Di tahun 2011, mengutip dari perkataan Kepala TPI Tanjung Luar Ama Sukarma Syamsudin untuk lomboknews.com, rata-rata sebulan ada 500 ekor hiu seharga mencapai Rp400 jutaan diperdagangkan di TPI Tanjung Luar. Biasanya, hiu-hiu ini merupakan hasil tangkapan nelayan setempat yang berburu hingga ke perairan lepas Samudra Hindia di selatan NTT, atau perairan Laut Flores. Jenis hiu yang bisa ditemukan dijual di TPI Tanjung Luar pun beragam, mulai dari hiu macan, hiu tikus, hiu lonjor, dan lain-lain.

Masih di tahun 2011, ada sekitar 60-an kapal nelayan di Pelabuhan Tanjung Luar. Dari keseluruhan, 40-an kapal berburu hiu. Menyedihkan. Perburuan hiu ini terus berlanjut karena permintaan dari Taiwan, Jepang, atau Cina sangat besar. Mereka tidak bisa berhenti karena sudah tahu bahwa nilai jual hiu memang tinggi. Katakanlah, per kilo sirip hiu kering bisa mencapai Rp1 jutaan. Nyaris sama dengan harga hiu utuh, per kilo dihargai Rp1 jutaan.

Yang mereka tidak tahu, laut semakin sakit ketika kita tidak lagi bisa menemukan hiu di laut. Ekosistem akan timpang. Ikan-ikan yang biasa kita konsumsi juga akan menghilang dari peredaran, termasuk seafood, karena mereka dihabisi oleh ikan-ikan lebih besar yang seharusnya dimakan oleh hiu sebagai predator utama.

Untuk membicarakan hal ini, #SaveSharks Indonesia, Gili Eco Trust, Jakarta Animal Aid, Earth Island Institute, dan pemerhati satwa menggelar konferensi pers yang khusus membahas secara detail hasil pemantauan Perburuan Biota Laut (Hiu, Manta, Lumba-Lumba, dan Paus) di Tanjung Luar, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat.

Diskusi diselenggarakan pada Jumat, 14 Februari 2014 pukul 10.00 di Divebox Coffee. Sebagai pembicara, #SaveSharks Indonesia akan diwakili oleh Riyanni Djangkaru, Gili Eco Trust oleh Delphine Robbe, Jakarta Animal Aid Network oleh Benvica, Femke den Haas, dan Pramudya H, Earth Island Institute. Be there!

Dive Box Coffee
Jln. Terogong Raya No. 100A
Pondok Indah, Jakarta Selatan
Telp.: (021) 91269081

0 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>